Suatu ketika terdapatlah serombongan orang-orang melakukan perjalanan yang sangat jauh. Menuju sebuah kota yang akan menjadi tempat tinggal yang amat lama bagi rombongan itu. Suatu ketika mereka berhenti di sebuah pasar, sebelum turun dari bis yang membawa mereka, pemimpin rombongan mereka memberikan sebuah catatan apa saja yang harus mereka beli disana seperti biji-bijian secukupnya, pupuk, dan beberapa makanan untuk di makan, peralatan dan kebutuhan lain. Pemimpin rombongan senantiasa mengingatkan bahwa apa-apa yang di beli harus sesuai atas apa yang di tuliskan dan apa yang di instruksikannya, dan pemimpin rombongan selalu mengharapkan agar setiap orang dapat saling mengingatkan karena di pasar, berbagai macam makanan dan kebutuhan lain di jual di sana ia khawatir jikalau orang-orang rombongan itu lupa untuk membeli sesuai apa yang di instruksikan.
Ketika rombongan itu sampai di pasar, sebagian ada yang bersegera untuk membeli apa yang di mintakan oleh pemimpin rombongan mereka itu,. ada lagi kelompok ke dua yang membeli apa yang di instruksikan namun tidak sesuai dengan takarannya. Mereka membeli biji-bijian namun lupa membeli pupuk dan perkakas. Ada yang hanya membeli pupuk dan perkakas tapi mereka tidak membeli makanan dan biji-bijian. namun ada yang ternyata lupa untuk membeli apa yang di instruksikan oleh pemimpin rombongannya. Mereka membeli makanan yang banyak dan berfoya-foya di pasar tersebut semakin mereka makan, maka mereka semakin lapar dan haus dan selalu ingin membelinya makanan tersebut,hingga uang mereka habis
Tak lama kemudian mobil segera berangkat dan tak satu pun yang tertinggal di pasar itu. Sebagian mereka mulai menyadari apa yang mereka lakukan. Ada yang khawatir karena tak satupun yang mereka bawa melainkan hanya perut yang penuh berisi makanan. Ada yang baru ingat bahwa apa yang mereka beli ternyata tidak tepat.ada juga yang puas karena semua yang di beli tepat sesuai apa yang instruksikan Sesampainya di tempat tujuan tiap-tiap orang di beri sepetak tanah yang harus mereka tanami akan apa yang mereka beli tadi.
Yang membeli sesuai dengan yang di instruksikan pimpinannya segera mencangkul dan menanami biji-bijian tadi setelah itu mereka pun memupuknya. Sehingga dengan seketika tumbuhlah pohon yang lebat dan rindang yang banyak buahnya. Dan orang itu merasa senang terlindung dari panas terik matahari dan melindungi pula dari kuyup hujan serta cukup dengan makanan. Mereka beristirahat, bermain dan bersenang-senang, dibawah pohon itu pula terdapat cadangan air yang cukup untuk minum dan mampu menyimpan hujan yang turun.
Sementara itu kelompok yang kedua yang membeli biji-bijian. Badan mereka lemas karena lupa mengisi perut mereka, merka juga bingung bagaimana caranya untuk mencangkul tanah dan biji-bijian yang mereka tanam pun tak mau tumbuh lantaran tak di pupuk akhirnya mereka sadar semua yang mereka lakukan ternyata sia-sia.
Kelompok ketiga, mereka tak punya apa-apa untuk di tanam, tak ada perkakas untuk bekerja mereka kepanasan saat siang. Dan kebasahan saat hujan. Tak ada yang dapat dimakan. Mereka kini menyadari bahwa mereka ternyata telah di sesatkan oleh nafsu mereka sendiri. Namun penyesalan pun kini tiada guna. Namun kelompok kedua dan ketigam pada akhirnya di pinjamkan perkakas dan di berikan sedikit pupuk serta biji-bijian oleh pemimpin rombongannya tadi dan mereka merasa senang kembali meskipun harus bersusah payah namun akhirnya pohon mereka pun tumbuh meskipun tak selebat dan serindang kelompok pertama namun cukup untuk melindungi mereka.
Yang parah ialah kelompok ke empat yang tidak mau mengikuti pimpinan rombongannya, mereka mengganggap mereka yang paling tau kemana mereka pergi mereka membeli pupuk mereka membeli makanan, perkakas, biji-bijian tapi tak tau di gunakan untuk apa ? sehingga di perjalanannya mereka membuang-buang apa yang telah mereka beli. Dan mereka sadar bahwa mereka telah salah. Mereka pun tidak mendapatkan bantuan dari pimpinan rombongan mereka lantaran mereka mendustainya.
Cerita tersebut hanyalah sebagai gambaran bagi kita bahwa itulah hakikat kehidupan kita di dunia. Dunia hanya sebagai sutau tempat persinggahan bagi kita untuk mempersiakan bekal kita di kehidupan yang lebih hakiki yaitu kehidupan akhirat. Sungguh amat rugi jika kita mau menukar kebaikan dan kenikmatan akhirat dengan kenikmatan dunia yang nisbi ini yang hanya tampak di pelupuk mata.
Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS al-An’aam : 32)
Di ibaratkan pada kelompok pertama yaitu orang-orang yang membeli apa-apa sesuai dengan instruksi dan catatan yang di sampaikan oleh pimpinan rombongan. Mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah, yang senantiasa menjalankan apa-apa yang di perintah dan melakukan sesuatu sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah SAW dan mereka adalah orang-orang beruntung karena memahami tujuan kehidupannya di dunia ini dan tidak terpedaya oleh keindahannya.
Kelompok kedua di ibaratkan adalah orang-orang yang tau akan tujuan perjalanannya. Namun tak memahami aturan yang di amanahkan, mereka beribadah dengan nafsu mereka. Mereka menghadirkan hal-hal yang baru yang mereka katakan sebagai suatu hal yang baik padahal itu tidak sesuai dengan tuntutan yang di ajarkan Rasulullah SAW sehingga mereka menjadi ahlu bid’ah dan amalan mereka seakan sia-sia. Tidak ada yang dapat di panen dari amalan tersebut, dn justru mendekatkan mereka pada kesesatan.
Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah. Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. >(QS. Al-Hadiid 27)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS.al-Ahzab 36)
Kelompok yang ke tiga adalah orang-orang yang tidak paham tujuan kehidupannya di dunia, mereka tau bahwa mereka akan mati, namun tak ada persiapan menghadapi kematian itu. Mereka terlalu di sibukan urusan dunia sehingga mereka tak sadar dan di lupakan akan tuhannya. Mereka lupa kenikamatan yang hakiki.
.Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi. (QS. Al-Mujadillah 19)
Kelopok yang ke-empat adalah orang yang paling malang, mereka tak paham tujuan kehidupan, mereka pembangkang kebenaran. Mereka mendustakan perkataan-perkataan dan nilai-nilai haq dinullah ini yang di sampaikan Rasulullah. Mereka berbuat baik tapi tak tau untuk apa. Mereka beramal banyak tapi tak paham tujuannya apa. Mereka inilah orang-orang kafir yang senantiasa menginggakri kebenaran dan mereka adalah orang-orang yang tidak mendapat apa-apa melainkan siksaan yang keras atas ke kufuran mereka.
Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?" Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam Keadaan sesat dan gila".Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? sebenarnya Dia adalah seorang yang Amat pendusta lagi sombong.Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya Amat pendusta lagi sombong. (QS. Al-Qamar 24-26)
………dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ar Ra’d 14)
lantas di kelompok manakah kita berada ? memahami tujuan kehidupan kita adalah hal mutlak yang harus kita ketahui. Kerena ada kehidupan setelah kehidupan dunia ini dan kehidupan itu jauh lebih baik jika kita memahaminya. Tujuan utama kita di dunia ini tidak lain adalah sebagai seorang hamba yang mengabdi kepada Allah dan tidak lebih dari itu. Dengan cara berpegang teguh pada atura-aturan yang terdapat dalam Al-quran dan sunnah.
Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Baqarah 3-5)
Ali bin Abi Talib
"Al haqqu bila nizam ya zimul batil bi nizam"
kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan kalah dengan kebatilan yang di atur dengan baik
kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan kalah dengan kebatilan yang di atur dengan baik
Minggu, 24 Agustus 2008
Senin, 18 Agustus 2008
DI SANA KITA DIDIK
Sebungkus kacang dengan sekaleng soft drink. kaki terjulur di sofa dengan tangan kiri mengamit remote. Ah.....kita di giring..........pada kematian. Bahkan lebih dari itu. Kotak kaca itu memudarkan pandangan meleburkan hati perlahan-lahan dan membekukan pada jurang-jurang kenisbian dunia. Dan disana kita di didik.
Televisi.......kotak kaca itu benar-benar dashyat, ia lebih bahaya dari matahari yang memancarkan ultravioletnya. Menggandakan melanin sehingga menghitamkan kulit. Melainkan ia mampu lebih dari itu. Ia menusuk ke hati, meluluhkan keimanan, ia menjalani berbagai virus, meracuni dan mematikan segala potensi diri. menggerakan seluruh tubuh dan jiwa dalam kelalaian. Membangun kita untuk mengecap berbagai rasa, pembangkangan, menciptakan seribu satu alasan. Ia lebih dari sebuah amnesia, melumpuhkan saraf otak dan disana kita di didik.
Kita tak meragukan lagi bahwa televisi adalah bahaya yang mengancam. Mengancam keberlangsungan, kekuatan jiwa-jiwa muda yang segar. Jiwa-jiwa remaja dan anak-anak bahkan jiwa-jiwa orang orang tua. Menjadi jiwa-jiwa yang lemah, membudak dan manja. Ia berhasil memperdaya dan mendustakan pandangan kita. Ia menyuguhkan fatamorgana kehidupan pada mimpi-mimpi hina. Ia menjajakan komersialisme dan antek kapitalisme yang menjunjung sekularisme.
Saya tak habis pikir entah apa yang ada di benak para produser dan konglomerat-konglomerat yang kita beri nama televisi itu. Suatu kali saya mengamati, alangkah buruknya dan alangkah lemahnya. Buruk pada manajemen dan lemah pada pengawasan. Sepanjang hari hampir sebagian televisi kita menyuguhkan program-program yang menggiring pada pembodohan masyarakat. Program-program yang mengacaukan pola pikir anak-anak muda dan program-program yang menyesatkan.
Misalnya sebuah stasiun televisi yang menyuguhkan program-program percintaan yang di bubuhi hal-hal yang diluar batas penalaran manusia (takhayul) dan itu berlangsung dari jam 08.00 pagi hingga siang hari. Sedikit di selingi program berita dan di lanjutkan kembali dengan film-film tersebut hingga sore harinya. Dan malamnya di sambung dengan program kontes musik hingga pukul 12 malam dan setelah itu disambung kembali dengan film takhayul kembali hingga subuh. Nilai apakah yang dapat kita petik ? benarkah televisi menjadi sarna pendidikan ? perlu di revisi kembali bahwa pemahaman televisi sebagai sarana pendidik pada akhir-akhir ini. Dan saya melihat sebagian televisi justru menggunggulkan program-program yang kolot. Ironis lagi ada televisi yang melabeli diri sebagai stasiun televisi pendidikan justru semakin membelakangi anak-anak untuk berfikir bodoh. Dengan program-program yang terkesan mendidik dan islami seperti entong dengan segala keajaibannya, dan si badut dengan sepeda ajaibnya.
Televisi kita bukannya menanamkan paradigma berfikir yang cerdas dan sehat. Justru memundurkan, dan harus di akui bahwa televisi kita sekarang adalah televisi yang menjadi sarana komersil dan manut pada kapitalisme. Mereka mengikuti tren kebutuhan masyarakat sehingga tidak lagi memperdulikan nilai-nilai dan cenderung latah. Televisi tidak mampu lagi menjadi media pendidik dan pencerdas bangsa. Melainkan tok hanya untuk sarana hiburan semata. Dan mereka para produser berdalih bahwa masyarakat butuh hiburan”. Ya.......benar-benar msyarakat kita butuh hiburan. Hiburan yang terlalu over. Bukan sebagai refreshing dari kesibukan, kepenatan dan rasa bosan. Melainkan hiburan yang mentotol-totol otak dan hati menjadi kering, kosong melompong.
Hiburan yang menjauhkan anak-anak dari buku, dari kreatifitas dan inovasinya. Menjadi imajinasi semu, hiburan yang menuntut para remaja untuk konsumtif. Mengkomersilkan setiap nilai dan mengawang impian. Kosong, bolong, mematerikan.
Hiburan yang membenamkan budaya edukatif orang tua pada pola permisif akan zaman. Televisi benar-benar setan yang menghembuskan buhul-buhul sejak fajar hingga fajar kembali. Ia melenakan dengan goyangan erotis. Memabukan dengan cinta yang skeptis dan membuat kita bersikap apatis.
Tiap malam kita di suguhkan acara-acara yang membanggakan aurat, wanita-wanita telanjang yang di komentari dengan komentar-komentar orang-orang bodoh. Tua muda menari, hilang rasa malu dan amat memalukan. Mereka bangga dengan audisi kaum kafir tersebut. Dari senja hingga malam dan kita pun di lalaikan untuk zikir pada Allah
Melalui televisi kita di ajarkan untuk melalaikan shalat dan menyegerakan gerakannya. Melupakan tuma’ninah demi sedetik acara televisi yang sayang di tinggalkan. Kita dilenakan oleh kisah-kisah cinta yang hampa penuh dendam dan intrik. Di televisi pulalah anak-anak kita di ajarkan budaya jahiliyah, menjadikan perempuan sebagai gula-gula yang di suguhkan dengan aurat-auratnya di pajang dalam iklan-iklan konsumtif
Sinetron orang-orang borju, kemewahan, keindahan dengan menafikan kemiskinan dan kemelaratan sehingga kita terlupa bahwa bangsa ini sedang sekarat dengan jutaan orang-orang melarat. Ia benar-benar membutakan
Sudah saatnya kita waspada terutama orang tua. Jangan salahkan jika anak-anak sudah berani melawan, melupakan tugas-tugas sekolahnya, merasa modern dan mengangggap anda orang yang kuno. Karena itulah pola yang di ajarkan televisi pada mereka. Dan itu tidak lebih dari upaya kaum kapitalis untuk merongrong bangsa ini mundur melalui kotak kaca itu.
Apa jadinya jika alur fikiran anak-anak kita layaknya si entong, atau cinta fitri bahkan black street / pacar pertama. Entah bagaimana pula dengan tuan takur dan mamamia yang menginginkan bangsa ini menjadi pe-dangdut dadakan dan menjadi negara yang masyarakatnya menjadi penyanyi dan berjoget sepanjang hari. Entahlah...........
Yang jelas sadarlah bahwa televisi kita sekarang begitu asyik dengan aurat-auratnya, dengan ajaran materialis dan konsumtif, takhayul dan penuh angan-angan yang semua itu merupakan rongsokan-rongsokan jahiliyah yang telah lama terkubur. Meskipun tidak semua stasiun televisi seperti itu, namun ingat ”disana kita di didik”.
Televisi.......kotak kaca itu benar-benar dashyat, ia lebih bahaya dari matahari yang memancarkan ultravioletnya. Menggandakan melanin sehingga menghitamkan kulit. Melainkan ia mampu lebih dari itu. Ia menusuk ke hati, meluluhkan keimanan, ia menjalani berbagai virus, meracuni dan mematikan segala potensi diri. menggerakan seluruh tubuh dan jiwa dalam kelalaian. Membangun kita untuk mengecap berbagai rasa, pembangkangan, menciptakan seribu satu alasan. Ia lebih dari sebuah amnesia, melumpuhkan saraf otak dan disana kita di didik.
Kita tak meragukan lagi bahwa televisi adalah bahaya yang mengancam. Mengancam keberlangsungan, kekuatan jiwa-jiwa muda yang segar. Jiwa-jiwa remaja dan anak-anak bahkan jiwa-jiwa orang orang tua. Menjadi jiwa-jiwa yang lemah, membudak dan manja. Ia berhasil memperdaya dan mendustakan pandangan kita. Ia menyuguhkan fatamorgana kehidupan pada mimpi-mimpi hina. Ia menjajakan komersialisme dan antek kapitalisme yang menjunjung sekularisme.
Saya tak habis pikir entah apa yang ada di benak para produser dan konglomerat-konglomerat yang kita beri nama televisi itu. Suatu kali saya mengamati, alangkah buruknya dan alangkah lemahnya. Buruk pada manajemen dan lemah pada pengawasan. Sepanjang hari hampir sebagian televisi kita menyuguhkan program-program yang menggiring pada pembodohan masyarakat. Program-program yang mengacaukan pola pikir anak-anak muda dan program-program yang menyesatkan.
Misalnya sebuah stasiun televisi yang menyuguhkan program-program percintaan yang di bubuhi hal-hal yang diluar batas penalaran manusia (takhayul) dan itu berlangsung dari jam 08.00 pagi hingga siang hari. Sedikit di selingi program berita dan di lanjutkan kembali dengan film-film tersebut hingga sore harinya. Dan malamnya di sambung dengan program kontes musik hingga pukul 12 malam dan setelah itu disambung kembali dengan film takhayul kembali hingga subuh. Nilai apakah yang dapat kita petik ? benarkah televisi menjadi sarna pendidikan ? perlu di revisi kembali bahwa pemahaman televisi sebagai sarana pendidik pada akhir-akhir ini. Dan saya melihat sebagian televisi justru menggunggulkan program-program yang kolot. Ironis lagi ada televisi yang melabeli diri sebagai stasiun televisi pendidikan justru semakin membelakangi anak-anak untuk berfikir bodoh. Dengan program-program yang terkesan mendidik dan islami seperti entong dengan segala keajaibannya, dan si badut dengan sepeda ajaibnya.
Televisi kita bukannya menanamkan paradigma berfikir yang cerdas dan sehat. Justru memundurkan, dan harus di akui bahwa televisi kita sekarang adalah televisi yang menjadi sarana komersil dan manut pada kapitalisme. Mereka mengikuti tren kebutuhan masyarakat sehingga tidak lagi memperdulikan nilai-nilai dan cenderung latah. Televisi tidak mampu lagi menjadi media pendidik dan pencerdas bangsa. Melainkan tok hanya untuk sarana hiburan semata. Dan mereka para produser berdalih bahwa masyarakat butuh hiburan”. Ya.......benar-benar msyarakat kita butuh hiburan. Hiburan yang terlalu over. Bukan sebagai refreshing dari kesibukan, kepenatan dan rasa bosan. Melainkan hiburan yang mentotol-totol otak dan hati menjadi kering, kosong melompong.
Hiburan yang menjauhkan anak-anak dari buku, dari kreatifitas dan inovasinya. Menjadi imajinasi semu, hiburan yang menuntut para remaja untuk konsumtif. Mengkomersilkan setiap nilai dan mengawang impian. Kosong, bolong, mematerikan.
Hiburan yang membenamkan budaya edukatif orang tua pada pola permisif akan zaman. Televisi benar-benar setan yang menghembuskan buhul-buhul sejak fajar hingga fajar kembali. Ia melenakan dengan goyangan erotis. Memabukan dengan cinta yang skeptis dan membuat kita bersikap apatis.
Tiap malam kita di suguhkan acara-acara yang membanggakan aurat, wanita-wanita telanjang yang di komentari dengan komentar-komentar orang-orang bodoh. Tua muda menari, hilang rasa malu dan amat memalukan. Mereka bangga dengan audisi kaum kafir tersebut. Dari senja hingga malam dan kita pun di lalaikan untuk zikir pada Allah
Melalui televisi kita di ajarkan untuk melalaikan shalat dan menyegerakan gerakannya. Melupakan tuma’ninah demi sedetik acara televisi yang sayang di tinggalkan. Kita dilenakan oleh kisah-kisah cinta yang hampa penuh dendam dan intrik. Di televisi pulalah anak-anak kita di ajarkan budaya jahiliyah, menjadikan perempuan sebagai gula-gula yang di suguhkan dengan aurat-auratnya di pajang dalam iklan-iklan konsumtif
Sinetron orang-orang borju, kemewahan, keindahan dengan menafikan kemiskinan dan kemelaratan sehingga kita terlupa bahwa bangsa ini sedang sekarat dengan jutaan orang-orang melarat. Ia benar-benar membutakan
Sudah saatnya kita waspada terutama orang tua. Jangan salahkan jika anak-anak sudah berani melawan, melupakan tugas-tugas sekolahnya, merasa modern dan mengangggap anda orang yang kuno. Karena itulah pola yang di ajarkan televisi pada mereka. Dan itu tidak lebih dari upaya kaum kapitalis untuk merongrong bangsa ini mundur melalui kotak kaca itu.
Apa jadinya jika alur fikiran anak-anak kita layaknya si entong, atau cinta fitri bahkan black street / pacar pertama. Entah bagaimana pula dengan tuan takur dan mamamia yang menginginkan bangsa ini menjadi pe-dangdut dadakan dan menjadi negara yang masyarakatnya menjadi penyanyi dan berjoget sepanjang hari. Entahlah...........
Yang jelas sadarlah bahwa televisi kita sekarang begitu asyik dengan aurat-auratnya, dengan ajaran materialis dan konsumtif, takhayul dan penuh angan-angan yang semua itu merupakan rongsokan-rongsokan jahiliyah yang telah lama terkubur. Meskipun tidak semua stasiun televisi seperti itu, namun ingat ”disana kita di didik”.
Kamis, 10 Juli 2008
MENJAGA KEIKHLASAN SEBUAH LANGKAH
tak dapat di pungkiri bahwa adanya kecenderungan kita terhadap lawan jenis. karena memang manusia di ciptakan berpasang-pasangan. dan Alah juga menghadirkan rasa kasih sayang merupakan salah satu rahmat Allah yang di berikan kepada kita.
"dan di antaratanda-tanda kebesarannya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. dan dia menjadikan diantarmu rasa kasih sayang. sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir" (Ar-Ruum 21)
dan tentunya rasa kasih sayang dan ketentraman itu akan hadir jika ridho Allah juga hadir dalam suatu hubungan yang di ikat dengan yang tulus karena Allah dalm sebuah bahtera pernikahan.
dan tentunya akan berbeda jika hubungan tersebut sudah menjangkiti para remaja muslim dalam koridor yang berbeda. baik itu pacaran maupun HTS (hubungan tanpa status) yang sekarang cukup poluper di kalangan para aktivis dakwah. dan ini amat di sayangankan. bakan banyak mendalihkan bahwa itu berbeda dengan pacaran, dan juah dari zina.tentunya amat menyalahi aturan yang syar'i.
banyak sarana yang di gunakan dan umumnya pacaran ala ikhwah ini lekat dengan sms, saling taujih, mengingatkan qiyamu lai'l. naudzubillah toh setan begitu pandai dalam menjerumuskan nafsu dengan yang halus. bahkan terkesan islami.
pacaran gaya ikhwah ini terkesan islami (cover) suatu ketika dalam sebuah aksi seorang ikhwan meng-sms-i seorang akhwat. " ukhti....doakan kami untuk berjihad di bundaran pagi ini. semoga kejayan segera kita rebut syukron.....Allahuakbar!!!!".....atau "assalamu'alaikum, akhi gi ngapain ? o ya... jangan lupa bangunin ane malam nanti kalau ketiduran untuk QL.key.......jzkllah? bahkan tak jarang hubungan yang sedemikian ini sudah terlalu jauh untuk merencanakan sebuah pernikahan
akhi wa ukhti....mari kita kembali merenung.... itukah tujuan perjuangan kita ? jangan dengan hal tersebut mengotori langkah yang bersih ini. jangan terbuai, adakah itu sebuah hasil akal kita ? atau kita sudah terlalu cenderung pada nafsu. dimana keikhlasan kita. bahkan saya khawatir kalau tujuan syuro',aksi, baksos, diskusi....dan setiap kegiatan kita bermuatan hanya untuk mendapatkan pujian dari sang ukhti ataupun ikhwan, atau terlihat gagah dan soleh/soleha, naudzubillah Allah kita letakan dimana.
tak ada salahnya menyukai seseorang....namun begitu vulgarkah hingga terbangunlah limbah di hati yang lama kelamaan memburamkan hati menjadi racun di antara dua insan itu. toh kalau memang ada rasa kecenderungan, berlindunglah pada Allah ialah yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita, mengharap hanya pada Allah.
oleh karena itu hindari "khayalan terlalu jauh." Saat ruang khayal terbuka lebar dengan bumbu-bumbu manis selalu menyertai. Tergoda syahwat untuk memikirkan dan berangan-angan lebih dari waktu ke waktu. Ketika pintu pertemanan lawan jenis terbuka dan mendapat respon yang baik, keinginan kuat untuk lebih masuk dan melewati pintu tersebut mendorong setiap kali ada kesempatan untuk "bertemu." Maka meminta no telepon, alamat rumah, foto hingga ingin mengetahui tanggal lahirnya biasanya menjadi ekor yang akan membuntutinya,
Di mana hati? Kembali untuk kejujuran diri. Apakah ada keikhlasan untuk saling mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an bagi dia semata-mata dari hati yang tulus dan tanpa pamrih? Dan benarkah tidak ada nafsu (syahwat) di dalam diri ini yang mendorong Anda untuk menelepon, ber sms, chatting dan sebagainya? Bagaimana perasaan Anda bila seharian tidak menelepon, bersms dan berchatting dengannya? Dan juga apakah perbuatan yang mulia ini (mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an) juga Anda lakukan untuk teman-teman Anda yang lainnya (sesama ikhwan atau sesama akhwat).
Berpulang kepada diri kita. Buatlah batasan-batasan diri untuk memurnikan kembali pertemanan Anda. Jangan melebihkan dalam berteman. Tidak menjadikan teman yang satu (dikarenakan lawan jenis, apalagi "maaf" cantik) lebih dispesialkan dibandingkan lainnya. Jadikan ia sama seperti teman Anda yang lainnya. Berikan keperluannya sebagaimana teman Anda yang lain.
Ketika Anda harus berhubungan dengannya, haruslah mempunyai keperluan yang jelas. Mengandung manfaat yang benar-benar penting dan berguna bukan mengada-ada hanya untuk hal-hal yang tidak jelas dan tidak ada faedahnya sama sekali.
Mulailah untuk merenung di atas kejujuran dan bertanya pada hati dengan sepenuhnya. Apakah hubungan ini murni bertemanan dan tidak ada syahwat hati yang yang mengiringi. Apakah saya masih dalam koridor yang diajarkan Islam ataukah sudah "nyerempet-nyerempet" bahkan sudah keluar dari rel yang sudah ditentukan? kita sendiri yang menjawabnya.
"dan di antaratanda-tanda kebesarannya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. dan dia menjadikan diantarmu rasa kasih sayang. sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir" (Ar-Ruum 21)
dan tentunya rasa kasih sayang dan ketentraman itu akan hadir jika ridho Allah juga hadir dalam suatu hubungan yang di ikat dengan yang tulus karena Allah dalm sebuah bahtera pernikahan.
dan tentunya akan berbeda jika hubungan tersebut sudah menjangkiti para remaja muslim dalam koridor yang berbeda. baik itu pacaran maupun HTS (hubungan tanpa status) yang sekarang cukup poluper di kalangan para aktivis dakwah. dan ini amat di sayangankan. bakan banyak mendalihkan bahwa itu berbeda dengan pacaran, dan juah dari zina.tentunya amat menyalahi aturan yang syar'i.
banyak sarana yang di gunakan dan umumnya pacaran ala ikhwah ini lekat dengan sms, saling taujih, mengingatkan qiyamu lai'l. naudzubillah toh setan begitu pandai dalam menjerumuskan nafsu dengan yang halus. bahkan terkesan islami.
pacaran gaya ikhwah ini terkesan islami (cover) suatu ketika dalam sebuah aksi seorang ikhwan meng-sms-i seorang akhwat. " ukhti....doakan kami untuk berjihad di bundaran pagi ini. semoga kejayan segera kita rebut syukron.....Allahuakbar!!!!".....atau "assalamu'alaikum, akhi gi ngapain ? o ya... jangan lupa bangunin ane malam nanti kalau ketiduran untuk QL.key.......jzkllah? bahkan tak jarang hubungan yang sedemikian ini sudah terlalu jauh untuk merencanakan sebuah pernikahan
akhi wa ukhti....mari kita kembali merenung.... itukah tujuan perjuangan kita ? jangan dengan hal tersebut mengotori langkah yang bersih ini. jangan terbuai, adakah itu sebuah hasil akal kita ? atau kita sudah terlalu cenderung pada nafsu. dimana keikhlasan kita. bahkan saya khawatir kalau tujuan syuro',aksi, baksos, diskusi....dan setiap kegiatan kita bermuatan hanya untuk mendapatkan pujian dari sang ukhti ataupun ikhwan, atau terlihat gagah dan soleh/soleha, naudzubillah Allah kita letakan dimana.
tak ada salahnya menyukai seseorang....namun begitu vulgarkah hingga terbangunlah limbah di hati yang lama kelamaan memburamkan hati menjadi racun di antara dua insan itu. toh kalau memang ada rasa kecenderungan, berlindunglah pada Allah ialah yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita, mengharap hanya pada Allah.
oleh karena itu hindari "khayalan terlalu jauh." Saat ruang khayal terbuka lebar dengan bumbu-bumbu manis selalu menyertai. Tergoda syahwat untuk memikirkan dan berangan-angan lebih dari waktu ke waktu. Ketika pintu pertemanan lawan jenis terbuka dan mendapat respon yang baik, keinginan kuat untuk lebih masuk dan melewati pintu tersebut mendorong setiap kali ada kesempatan untuk "bertemu." Maka meminta no telepon, alamat rumah, foto hingga ingin mengetahui tanggal lahirnya biasanya menjadi ekor yang akan membuntutinya,
Di mana hati? Kembali untuk kejujuran diri. Apakah ada keikhlasan untuk saling mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an bagi dia semata-mata dari hati yang tulus dan tanpa pamrih? Dan benarkah tidak ada nafsu (syahwat) di dalam diri ini yang mendorong Anda untuk menelepon, ber sms, chatting dan sebagainya? Bagaimana perasaan Anda bila seharian tidak menelepon, bersms dan berchatting dengannya? Dan juga apakah perbuatan yang mulia ini (mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an) juga Anda lakukan untuk teman-teman Anda yang lainnya (sesama ikhwan atau sesama akhwat).
Berpulang kepada diri kita. Buatlah batasan-batasan diri untuk memurnikan kembali pertemanan Anda. Jangan melebihkan dalam berteman. Tidak menjadikan teman yang satu (dikarenakan lawan jenis, apalagi "maaf" cantik) lebih dispesialkan dibandingkan lainnya. Jadikan ia sama seperti teman Anda yang lainnya. Berikan keperluannya sebagaimana teman Anda yang lain.
Ketika Anda harus berhubungan dengannya, haruslah mempunyai keperluan yang jelas. Mengandung manfaat yang benar-benar penting dan berguna bukan mengada-ada hanya untuk hal-hal yang tidak jelas dan tidak ada faedahnya sama sekali.
Mulailah untuk merenung di atas kejujuran dan bertanya pada hati dengan sepenuhnya. Apakah hubungan ini murni bertemanan dan tidak ada syahwat hati yang yang mengiringi. Apakah saya masih dalam koridor yang diajarkan Islam ataukah sudah "nyerempet-nyerempet" bahkan sudah keluar dari rel yang sudah ditentukan? kita sendiri yang menjawabnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hidayatullah.com News
Liputan6: RSS 0.92
|
|


