Sebungkus kacang dengan sekaleng soft drink. kaki terjulur di sofa dengan tangan kiri mengamit remote. Ah.....kita di giring..........pada kematian. Bahkan lebih dari itu. Kotak kaca itu memudarkan pandangan meleburkan hati perlahan-lahan dan membekukan pada jurang-jurang kenisbian dunia. Dan disana kita di didik.
Televisi.......kotak kaca itu benar-benar dashyat, ia lebih bahaya dari matahari yang memancarkan ultravioletnya. Menggandakan melanin sehingga menghitamkan kulit. Melainkan ia mampu lebih dari itu. Ia menusuk ke hati, meluluhkan keimanan, ia menjalani berbagai virus, meracuni dan mematikan segala potensi diri. menggerakan seluruh tubuh dan jiwa dalam kelalaian. Membangun kita untuk mengecap berbagai rasa, pembangkangan, menciptakan seribu satu alasan. Ia lebih dari sebuah amnesia, melumpuhkan saraf otak dan disana kita di didik.
Kita tak meragukan lagi bahwa televisi adalah bahaya yang mengancam. Mengancam keberlangsungan, kekuatan jiwa-jiwa muda yang segar. Jiwa-jiwa remaja dan anak-anak bahkan jiwa-jiwa orang orang tua. Menjadi jiwa-jiwa yang lemah, membudak dan manja. Ia berhasil memperdaya dan mendustakan pandangan kita. Ia menyuguhkan fatamorgana kehidupan pada mimpi-mimpi hina. Ia menjajakan komersialisme dan antek kapitalisme yang menjunjung sekularisme.
Saya tak habis pikir entah apa yang ada di benak para produser dan konglomerat-konglomerat yang kita beri nama televisi itu. Suatu kali saya mengamati, alangkah buruknya dan alangkah lemahnya. Buruk pada manajemen dan lemah pada pengawasan. Sepanjang hari hampir sebagian televisi kita menyuguhkan program-program yang menggiring pada pembodohan masyarakat. Program-program yang mengacaukan pola pikir anak-anak muda dan program-program yang menyesatkan.
Misalnya sebuah stasiun televisi yang menyuguhkan program-program percintaan yang di bubuhi hal-hal yang diluar batas penalaran manusia (takhayul) dan itu berlangsung dari jam 08.00 pagi hingga siang hari. Sedikit di selingi program berita dan di lanjutkan kembali dengan film-film tersebut hingga sore harinya. Dan malamnya di sambung dengan program kontes musik hingga pukul 12 malam dan setelah itu disambung kembali dengan film takhayul kembali hingga subuh. Nilai apakah yang dapat kita petik ? benarkah televisi menjadi sarna pendidikan ? perlu di revisi kembali bahwa pemahaman televisi sebagai sarana pendidik pada akhir-akhir ini. Dan saya melihat sebagian televisi justru menggunggulkan program-program yang kolot. Ironis lagi ada televisi yang melabeli diri sebagai stasiun televisi pendidikan justru semakin membelakangi anak-anak untuk berfikir bodoh. Dengan program-program yang terkesan mendidik dan islami seperti entong dengan segala keajaibannya, dan si badut dengan sepeda ajaibnya.
Televisi kita bukannya menanamkan paradigma berfikir yang cerdas dan sehat. Justru memundurkan, dan harus di akui bahwa televisi kita sekarang adalah televisi yang menjadi sarana komersil dan manut pada kapitalisme. Mereka mengikuti tren kebutuhan masyarakat sehingga tidak lagi memperdulikan nilai-nilai dan cenderung latah. Televisi tidak mampu lagi menjadi media pendidik dan pencerdas bangsa. Melainkan tok hanya untuk sarana hiburan semata. Dan mereka para produser berdalih bahwa masyarakat butuh hiburan”. Ya.......benar-benar msyarakat kita butuh hiburan. Hiburan yang terlalu over. Bukan sebagai refreshing dari kesibukan, kepenatan dan rasa bosan. Melainkan hiburan yang mentotol-totol otak dan hati menjadi kering, kosong melompong.
Hiburan yang menjauhkan anak-anak dari buku, dari kreatifitas dan inovasinya. Menjadi imajinasi semu, hiburan yang menuntut para remaja untuk konsumtif. Mengkomersilkan setiap nilai dan mengawang impian. Kosong, bolong, mematerikan.
Hiburan yang membenamkan budaya edukatif orang tua pada pola permisif akan zaman. Televisi benar-benar setan yang menghembuskan buhul-buhul sejak fajar hingga fajar kembali. Ia melenakan dengan goyangan erotis. Memabukan dengan cinta yang skeptis dan membuat kita bersikap apatis.
Tiap malam kita di suguhkan acara-acara yang membanggakan aurat, wanita-wanita telanjang yang di komentari dengan komentar-komentar orang-orang bodoh. Tua muda menari, hilang rasa malu dan amat memalukan. Mereka bangga dengan audisi kaum kafir tersebut. Dari senja hingga malam dan kita pun di lalaikan untuk zikir pada Allah
Melalui televisi kita di ajarkan untuk melalaikan shalat dan menyegerakan gerakannya. Melupakan tuma’ninah demi sedetik acara televisi yang sayang di tinggalkan. Kita dilenakan oleh kisah-kisah cinta yang hampa penuh dendam dan intrik. Di televisi pulalah anak-anak kita di ajarkan budaya jahiliyah, menjadikan perempuan sebagai gula-gula yang di suguhkan dengan aurat-auratnya di pajang dalam iklan-iklan konsumtif
Sinetron orang-orang borju, kemewahan, keindahan dengan menafikan kemiskinan dan kemelaratan sehingga kita terlupa bahwa bangsa ini sedang sekarat dengan jutaan orang-orang melarat. Ia benar-benar membutakan
Sudah saatnya kita waspada terutama orang tua. Jangan salahkan jika anak-anak sudah berani melawan, melupakan tugas-tugas sekolahnya, merasa modern dan mengangggap anda orang yang kuno. Karena itulah pola yang di ajarkan televisi pada mereka. Dan itu tidak lebih dari upaya kaum kapitalis untuk merongrong bangsa ini mundur melalui kotak kaca itu.
Apa jadinya jika alur fikiran anak-anak kita layaknya si entong, atau cinta fitri bahkan black street / pacar pertama. Entah bagaimana pula dengan tuan takur dan mamamia yang menginginkan bangsa ini menjadi pe-dangdut dadakan dan menjadi negara yang masyarakatnya menjadi penyanyi dan berjoget sepanjang hari. Entahlah...........
Yang jelas sadarlah bahwa televisi kita sekarang begitu asyik dengan aurat-auratnya, dengan ajaran materialis dan konsumtif, takhayul dan penuh angan-angan yang semua itu merupakan rongsokan-rongsokan jahiliyah yang telah lama terkubur. Meskipun tidak semua stasiun televisi seperti itu, namun ingat ”disana kita di didik”.
Ali bin Abi Talib
"Al haqqu bila nizam ya zimul batil bi nizam"
kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan kalah dengan kebatilan yang di atur dengan baik
kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan kalah dengan kebatilan yang di atur dengan baik
Senin, 18 Agustus 2008
Kamis, 10 Juli 2008
MENJAGA KEIKHLASAN SEBUAH LANGKAH
tak dapat di pungkiri bahwa adanya kecenderungan kita terhadap lawan jenis. karena memang manusia di ciptakan berpasang-pasangan. dan Alah juga menghadirkan rasa kasih sayang merupakan salah satu rahmat Allah yang di berikan kepada kita.
"dan di antaratanda-tanda kebesarannya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. dan dia menjadikan diantarmu rasa kasih sayang. sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir" (Ar-Ruum 21)
dan tentunya rasa kasih sayang dan ketentraman itu akan hadir jika ridho Allah juga hadir dalam suatu hubungan yang di ikat dengan yang tulus karena Allah dalm sebuah bahtera pernikahan.
dan tentunya akan berbeda jika hubungan tersebut sudah menjangkiti para remaja muslim dalam koridor yang berbeda. baik itu pacaran maupun HTS (hubungan tanpa status) yang sekarang cukup poluper di kalangan para aktivis dakwah. dan ini amat di sayangankan. bakan banyak mendalihkan bahwa itu berbeda dengan pacaran, dan juah dari zina.tentunya amat menyalahi aturan yang syar'i.
banyak sarana yang di gunakan dan umumnya pacaran ala ikhwah ini lekat dengan sms, saling taujih, mengingatkan qiyamu lai'l. naudzubillah toh setan begitu pandai dalam menjerumuskan nafsu dengan yang halus. bahkan terkesan islami.
pacaran gaya ikhwah ini terkesan islami (cover) suatu ketika dalam sebuah aksi seorang ikhwan meng-sms-i seorang akhwat. " ukhti....doakan kami untuk berjihad di bundaran pagi ini. semoga kejayan segera kita rebut syukron.....Allahuakbar!!!!".....atau "assalamu'alaikum, akhi gi ngapain ? o ya... jangan lupa bangunin ane malam nanti kalau ketiduran untuk QL.key.......jzkllah? bahkan tak jarang hubungan yang sedemikian ini sudah terlalu jauh untuk merencanakan sebuah pernikahan
akhi wa ukhti....mari kita kembali merenung.... itukah tujuan perjuangan kita ? jangan dengan hal tersebut mengotori langkah yang bersih ini. jangan terbuai, adakah itu sebuah hasil akal kita ? atau kita sudah terlalu cenderung pada nafsu. dimana keikhlasan kita. bahkan saya khawatir kalau tujuan syuro',aksi, baksos, diskusi....dan setiap kegiatan kita bermuatan hanya untuk mendapatkan pujian dari sang ukhti ataupun ikhwan, atau terlihat gagah dan soleh/soleha, naudzubillah Allah kita letakan dimana.
tak ada salahnya menyukai seseorang....namun begitu vulgarkah hingga terbangunlah limbah di hati yang lama kelamaan memburamkan hati menjadi racun di antara dua insan itu. toh kalau memang ada rasa kecenderungan, berlindunglah pada Allah ialah yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita, mengharap hanya pada Allah.
oleh karena itu hindari "khayalan terlalu jauh." Saat ruang khayal terbuka lebar dengan bumbu-bumbu manis selalu menyertai. Tergoda syahwat untuk memikirkan dan berangan-angan lebih dari waktu ke waktu. Ketika pintu pertemanan lawan jenis terbuka dan mendapat respon yang baik, keinginan kuat untuk lebih masuk dan melewati pintu tersebut mendorong setiap kali ada kesempatan untuk "bertemu." Maka meminta no telepon, alamat rumah, foto hingga ingin mengetahui tanggal lahirnya biasanya menjadi ekor yang akan membuntutinya,
Di mana hati? Kembali untuk kejujuran diri. Apakah ada keikhlasan untuk saling mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an bagi dia semata-mata dari hati yang tulus dan tanpa pamrih? Dan benarkah tidak ada nafsu (syahwat) di dalam diri ini yang mendorong Anda untuk menelepon, ber sms, chatting dan sebagainya? Bagaimana perasaan Anda bila seharian tidak menelepon, bersms dan berchatting dengannya? Dan juga apakah perbuatan yang mulia ini (mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an) juga Anda lakukan untuk teman-teman Anda yang lainnya (sesama ikhwan atau sesama akhwat).
Berpulang kepada diri kita. Buatlah batasan-batasan diri untuk memurnikan kembali pertemanan Anda. Jangan melebihkan dalam berteman. Tidak menjadikan teman yang satu (dikarenakan lawan jenis, apalagi "maaf" cantik) lebih dispesialkan dibandingkan lainnya. Jadikan ia sama seperti teman Anda yang lainnya. Berikan keperluannya sebagaimana teman Anda yang lain.
Ketika Anda harus berhubungan dengannya, haruslah mempunyai keperluan yang jelas. Mengandung manfaat yang benar-benar penting dan berguna bukan mengada-ada hanya untuk hal-hal yang tidak jelas dan tidak ada faedahnya sama sekali.
Mulailah untuk merenung di atas kejujuran dan bertanya pada hati dengan sepenuhnya. Apakah hubungan ini murni bertemanan dan tidak ada syahwat hati yang yang mengiringi. Apakah saya masih dalam koridor yang diajarkan Islam ataukah sudah "nyerempet-nyerempet" bahkan sudah keluar dari rel yang sudah ditentukan? kita sendiri yang menjawabnya.
"dan di antaratanda-tanda kebesarannya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. dan dia menjadikan diantarmu rasa kasih sayang. sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir" (Ar-Ruum 21)
dan tentunya rasa kasih sayang dan ketentraman itu akan hadir jika ridho Allah juga hadir dalam suatu hubungan yang di ikat dengan yang tulus karena Allah dalm sebuah bahtera pernikahan.
dan tentunya akan berbeda jika hubungan tersebut sudah menjangkiti para remaja muslim dalam koridor yang berbeda. baik itu pacaran maupun HTS (hubungan tanpa status) yang sekarang cukup poluper di kalangan para aktivis dakwah. dan ini amat di sayangankan. bakan banyak mendalihkan bahwa itu berbeda dengan pacaran, dan juah dari zina.tentunya amat menyalahi aturan yang syar'i.
banyak sarana yang di gunakan dan umumnya pacaran ala ikhwah ini lekat dengan sms, saling taujih, mengingatkan qiyamu lai'l. naudzubillah toh setan begitu pandai dalam menjerumuskan nafsu dengan yang halus. bahkan terkesan islami.
pacaran gaya ikhwah ini terkesan islami (cover) suatu ketika dalam sebuah aksi seorang ikhwan meng-sms-i seorang akhwat. " ukhti....doakan kami untuk berjihad di bundaran pagi ini. semoga kejayan segera kita rebut syukron.....Allahuakbar!!!!".....atau "assalamu'alaikum, akhi gi ngapain ? o ya... jangan lupa bangunin ane malam nanti kalau ketiduran untuk QL.key.......jzkllah? bahkan tak jarang hubungan yang sedemikian ini sudah terlalu jauh untuk merencanakan sebuah pernikahan
akhi wa ukhti....mari kita kembali merenung.... itukah tujuan perjuangan kita ? jangan dengan hal tersebut mengotori langkah yang bersih ini. jangan terbuai, adakah itu sebuah hasil akal kita ? atau kita sudah terlalu cenderung pada nafsu. dimana keikhlasan kita. bahkan saya khawatir kalau tujuan syuro',aksi, baksos, diskusi....dan setiap kegiatan kita bermuatan hanya untuk mendapatkan pujian dari sang ukhti ataupun ikhwan, atau terlihat gagah dan soleh/soleha, naudzubillah Allah kita letakan dimana.
tak ada salahnya menyukai seseorang....namun begitu vulgarkah hingga terbangunlah limbah di hati yang lama kelamaan memburamkan hati menjadi racun di antara dua insan itu. toh kalau memang ada rasa kecenderungan, berlindunglah pada Allah ialah yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita, mengharap hanya pada Allah.
oleh karena itu hindari "khayalan terlalu jauh." Saat ruang khayal terbuka lebar dengan bumbu-bumbu manis selalu menyertai. Tergoda syahwat untuk memikirkan dan berangan-angan lebih dari waktu ke waktu. Ketika pintu pertemanan lawan jenis terbuka dan mendapat respon yang baik, keinginan kuat untuk lebih masuk dan melewati pintu tersebut mendorong setiap kali ada kesempatan untuk "bertemu." Maka meminta no telepon, alamat rumah, foto hingga ingin mengetahui tanggal lahirnya biasanya menjadi ekor yang akan membuntutinya,
Di mana hati? Kembali untuk kejujuran diri. Apakah ada keikhlasan untuk saling mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an bagi dia semata-mata dari hati yang tulus dan tanpa pamrih? Dan benarkah tidak ada nafsu (syahwat) di dalam diri ini yang mendorong Anda untuk menelepon, ber sms, chatting dan sebagainya? Bagaimana perasaan Anda bila seharian tidak menelepon, bersms dan berchatting dengannya? Dan juga apakah perbuatan yang mulia ini (mendoa'akan, mengingatkan untuk menjaga sholat, dan tilawah qur'an) juga Anda lakukan untuk teman-teman Anda yang lainnya (sesama ikhwan atau sesama akhwat).
Berpulang kepada diri kita. Buatlah batasan-batasan diri untuk memurnikan kembali pertemanan Anda. Jangan melebihkan dalam berteman. Tidak menjadikan teman yang satu (dikarenakan lawan jenis, apalagi "maaf" cantik) lebih dispesialkan dibandingkan lainnya. Jadikan ia sama seperti teman Anda yang lainnya. Berikan keperluannya sebagaimana teman Anda yang lain.
Ketika Anda harus berhubungan dengannya, haruslah mempunyai keperluan yang jelas. Mengandung manfaat yang benar-benar penting dan berguna bukan mengada-ada hanya untuk hal-hal yang tidak jelas dan tidak ada faedahnya sama sekali.
Mulailah untuk merenung di atas kejujuran dan bertanya pada hati dengan sepenuhnya. Apakah hubungan ini murni bertemanan dan tidak ada syahwat hati yang yang mengiringi. Apakah saya masih dalam koridor yang diajarkan Islam ataukah sudah "nyerempet-nyerempet" bahkan sudah keluar dari rel yang sudah ditentukan? kita sendiri yang menjawabnya.
Selasa, 24 Juni 2008
WANITA - OH WANITA
Oh saudari yang terhormat.( Tentunya saya sedikit ragu untuk melontarkan kalimat ini. Tapi apa boleh buat) anda yang ada di sana yang begitu asyik dalam dalam ketelanjangan. Anda yang bangga dengan keterbukaan dan dapat di pahami bahwa keterbukaan adalah kebanggaan anda, dan ini bukan konotasi melainkan denotatif bahwa anda adalah orang-orang yang gemar merawat tubuh hingga mahalnya biaya perawatan tubuh anda akan terasa sia-sia jika tidak di hadirkan dalam sebuah expo jalanan yang begitu mudah untuk di gelar di mall-mall, di taman-taman. Sungguh itu sangat hina. Padahal anda begitu berharga, namun kenapa kehinaan itu begitu anda banggakan. Anda tak mengetahui bahwa di keliling anda adalah setan yang senantiasa memperindah pandangan orang akan aurat yang anda pamerkan. Sadarkah anda bahwa anda telah menyiksa kami kaum lelaki. Bahwa kami manusia dan, jangan kau tarik nafsu kami dalam kehinaan dan kemurkaan rabb kami. Kaum kafir telah memperalat kalian. Dan jangan tarik kami.
”Dan katakanlah pada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya dan janganlah menampakan perhiasan (auratnya)............” (QS. An-Nur : 31).
Saya ingat sekali, ada perbedaan mencolok yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir ini dalam sebuah tayangan sepak bola. Di mana pada saat ulasan oleh komentator ada hal lain yang terlihat yaitu beberapa wanita berpakaian seksi yang mendampingi komentator tersebut. (Berbeda dahulunya yang ada hanya komentator pria pada umumnya.) Apa artinya ? sebuah inovasi atau hanya sebuah penarik agar terlihat lebih menarik dan tidak membosankan. Entahlah yang jelas suatu kesimpulan yang selama ini saya lihat betapan pupolernya wanita sebagai suatu komoditas. Ya... komoditas yang di perjual belikan terutama dalam dunia hiburan media
Anda tentunya pernah suatu kali di tawari sebuah produk.di mana wanita cantik dan seksi sebagai bargainernya. Eksistensi wanita sebagai bahan penarik memang tidak tergoyahkan. Ibarat gula yang tak akan bisa di pisahkan dari susu, kopi maupun teh. Jika itu tidak ada saya yakin anda tidak akan suka meminumnya. Tentunya amat di sayangkan jika wanita di artikan seperti itu. Dan itu merupakan meperkosaan berat bagi kodrat wanita yang sebenarnya. Sebuah pemg-kerdilan hakikat wanita yang sesungguhnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa kita lambat laun mulai kembali kepada kejahiliahan zaman. Dimana wanita sebagai objek yang di diskreditkan. Wanita hanya berfungsi sebagai pemuas, pengembira, objek pengamatan oleh nafsu. Dan itu tidak jauh dari tubuh yang seksi, mulus, putih, cantik. Apalagi jika tubuh yang indah itu hanya di hargai dengan uang ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, milyaran ataupun triliyunan. Ini jelas mengkebiri substansi peran wanita yang sesungguhnya. Dan ini di anggap suatu kebanggaan, benar-benar jahiliahkah kita saat ini.
Tapi ada hal yang membedakan antara wanita jahiliyah dengan jahiliyah versi modernisme ini. Dimana hadirnya kalangan feminis yang melegitimasi dengan mengatasnamakan kebebasan, ekspresi, seni. Dan itu di apresiasikan dengan berbagai prestasi. Anda tau Jesica Alba yang tahun lalu di nobatkan sebagai wanita terseksi di dunia. Prestasi yang amat di gemari oleh setan.
Saya baru ingat, betapa semangatnya para istri pemain bola pada perhelatan EURO2008 ini yang berlomba-lomba untuk menampilkan foto bersama mereka tanpa busana demi menyemangati para suami yang berjuang. Yang saya khawatirkan jikalau saja para suami mereka juga bersepakat untuk berbagi istri (naudzubillah, tapi saya terlalu kolot mungkin. Bukankah mereka memang seperti itu, toh tak ada yang berminat menjadi penghulu pernikahan di sana. Karena pernikahan tidak populer). Lupakan karena memang mereka itu kaum kafir.
Coba anda lihat di beberapa tayangan televisi yang gandrung akan produksi artis karbitannya melalui audisi-audisi ala kaum kafir itu. Sarat akan muatan eksploitasi wanita sebagai hiburan dengan pakaian yang serba minim, suara yang mendayu bahkan gerakan erotis. Belum lagi pemilihan putri indonesia dan miss indonesia yang mengkerdilkan peran dari wanita sebagai ibu ’awwalun madrasatun” bagi jundi-jundi kecil. melainkan penjaja aurat beken. Oh mereka dikenal sebagai wanita cerdas yang berjuang demi kepentingan orang banyak. Padahal jelas kita telah di peralat dengan imperialisme kafir dengan balutan yang indah. Balutan pakaian-pakaina minim sebagai refleksi kebebasan, seni dan ekspresi, dan persamaan gender sebagai kekuatan dan hak.
Generasi apa yang akan hadir dari orang-orang seperti ini ?
Saya selalu bertanya, bagaimana gambaran dari masa depan kita nanti ? adakah kaum lelaki benar-benar menjadi kaum tertindas akan kesepakatan wanita untuk lebih ekstrim lagi. Untuk tidak tanggung- tanggung dalam bertindak. Mengkokohkan eksistensinya sebagai komoditas yang layak bersaing. Bahkan saya melihat indikasi kenaikan rok dan celana para wanita sudah mencapai 10% persen pertahun. Bukan tidak mungkin petumbuhan yang pesat ini akan menatikan potensi pasar desaigner perancis maupun italy untuk memproduksi model terbaru. Karena semua wanita akan menyukai hal-hal yang alami. Layaknya kambing yang enggan pake baju. Entahlah itu hanya sebuah prediksi dan kita tinggal tunggu kemurkaan dari Allah.
Saya hanya berpesan kepada para ikhwan untuk lebih menguatkan iman, tantangan lebih besar. Toh kezaliman mereka pada diri mereka sendiri juga turut menzalimi kita sebagai kaum laki-laki. Ghadul bashar memang harus di azamkan dalam diri ini.
”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. an-Nur ; 30)”
█RZ
”Dan katakanlah pada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya dan janganlah menampakan perhiasan (auratnya)............” (QS. An-Nur : 31).
Saya ingat sekali, ada perbedaan mencolok yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir ini dalam sebuah tayangan sepak bola. Di mana pada saat ulasan oleh komentator ada hal lain yang terlihat yaitu beberapa wanita berpakaian seksi yang mendampingi komentator tersebut. (Berbeda dahulunya yang ada hanya komentator pria pada umumnya.) Apa artinya ? sebuah inovasi atau hanya sebuah penarik agar terlihat lebih menarik dan tidak membosankan. Entahlah yang jelas suatu kesimpulan yang selama ini saya lihat betapan pupolernya wanita sebagai suatu komoditas. Ya... komoditas yang di perjual belikan terutama dalam dunia hiburan media
Anda tentunya pernah suatu kali di tawari sebuah produk.di mana wanita cantik dan seksi sebagai bargainernya. Eksistensi wanita sebagai bahan penarik memang tidak tergoyahkan. Ibarat gula yang tak akan bisa di pisahkan dari susu, kopi maupun teh. Jika itu tidak ada saya yakin anda tidak akan suka meminumnya. Tentunya amat di sayangkan jika wanita di artikan seperti itu. Dan itu merupakan meperkosaan berat bagi kodrat wanita yang sebenarnya. Sebuah pemg-kerdilan hakikat wanita yang sesungguhnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa kita lambat laun mulai kembali kepada kejahiliahan zaman. Dimana wanita sebagai objek yang di diskreditkan. Wanita hanya berfungsi sebagai pemuas, pengembira, objek pengamatan oleh nafsu. Dan itu tidak jauh dari tubuh yang seksi, mulus, putih, cantik. Apalagi jika tubuh yang indah itu hanya di hargai dengan uang ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, milyaran ataupun triliyunan. Ini jelas mengkebiri substansi peran wanita yang sesungguhnya. Dan ini di anggap suatu kebanggaan, benar-benar jahiliahkah kita saat ini.
Tapi ada hal yang membedakan antara wanita jahiliyah dengan jahiliyah versi modernisme ini. Dimana hadirnya kalangan feminis yang melegitimasi dengan mengatasnamakan kebebasan, ekspresi, seni. Dan itu di apresiasikan dengan berbagai prestasi. Anda tau Jesica Alba yang tahun lalu di nobatkan sebagai wanita terseksi di dunia. Prestasi yang amat di gemari oleh setan.
Saya baru ingat, betapa semangatnya para istri pemain bola pada perhelatan EURO2008 ini yang berlomba-lomba untuk menampilkan foto bersama mereka tanpa busana demi menyemangati para suami yang berjuang. Yang saya khawatirkan jikalau saja para suami mereka juga bersepakat untuk berbagi istri (naudzubillah, tapi saya terlalu kolot mungkin. Bukankah mereka memang seperti itu, toh tak ada yang berminat menjadi penghulu pernikahan di sana. Karena pernikahan tidak populer). Lupakan karena memang mereka itu kaum kafir.
Coba anda lihat di beberapa tayangan televisi yang gandrung akan produksi artis karbitannya melalui audisi-audisi ala kaum kafir itu. Sarat akan muatan eksploitasi wanita sebagai hiburan dengan pakaian yang serba minim, suara yang mendayu bahkan gerakan erotis. Belum lagi pemilihan putri indonesia dan miss indonesia yang mengkerdilkan peran dari wanita sebagai ibu ’awwalun madrasatun” bagi jundi-jundi kecil. melainkan penjaja aurat beken. Oh mereka dikenal sebagai wanita cerdas yang berjuang demi kepentingan orang banyak. Padahal jelas kita telah di peralat dengan imperialisme kafir dengan balutan yang indah. Balutan pakaian-pakaina minim sebagai refleksi kebebasan, seni dan ekspresi, dan persamaan gender sebagai kekuatan dan hak.
Generasi apa yang akan hadir dari orang-orang seperti ini ?
Saya selalu bertanya, bagaimana gambaran dari masa depan kita nanti ? adakah kaum lelaki benar-benar menjadi kaum tertindas akan kesepakatan wanita untuk lebih ekstrim lagi. Untuk tidak tanggung- tanggung dalam bertindak. Mengkokohkan eksistensinya sebagai komoditas yang layak bersaing. Bahkan saya melihat indikasi kenaikan rok dan celana para wanita sudah mencapai 10% persen pertahun. Bukan tidak mungkin petumbuhan yang pesat ini akan menatikan potensi pasar desaigner perancis maupun italy untuk memproduksi model terbaru. Karena semua wanita akan menyukai hal-hal yang alami. Layaknya kambing yang enggan pake baju. Entahlah itu hanya sebuah prediksi dan kita tinggal tunggu kemurkaan dari Allah.
Saya hanya berpesan kepada para ikhwan untuk lebih menguatkan iman, tantangan lebih besar. Toh kezaliman mereka pada diri mereka sendiri juga turut menzalimi kita sebagai kaum laki-laki. Ghadul bashar memang harus di azamkan dalam diri ini.
”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. an-Nur ; 30)”
█RZ
Langganan:
Postingan (Atom)
Hidayatullah.com News
Liputan6: RSS 0.92
|
|


